Friday, April 10, 2009

oh so looveefoxx


People may get hurt by someone they don’t respect, but when they charge their think by their own anger, than its time to hurt themself more than people made them hurt. Semua orang punya pengalaman dalam hidupnya, senang, sedih, marah , gembira, menyakiti, disakiti, dan sayangnya kemudian manusia menyesal . Bukan itu poinnya, bukan penyesalan, rasa syukur lebih besar daripada penyesalan. Kesalahan ada juga untuk disyukuri, untuk dimengerti bahwa pada akhirnya kita melihat apa yang salah dan mempebaikinya, bukan menyesali. Berbagai keadaan yang menempatkan manusia berada di berbagai posisi itulah yang membuat manusia belajar dan mengerti pada sesamanya. Belajar untuk bisa membaca apa yang terjadi dan berempati pada saudara- saudaranya di seluruh jagat raya, belajar untuk melihat permasalahan tidak dari hanya satu kebenaran. Dunia ini pantas untuk dicintai ! Yang paling sulit dari bagian mencintai dunia ini adalah mencintai setiap elemen yang ada di dalamnya, bahkan ketika kita sudah berhasil mencintai setiap karya alam raya, kita bahkan gagal mencintai diri kita sendiri, gagal untuk berdamai dengan diri sendiri dan berlindung dibelakang orang lain untuk dipersalahkan, hanya karena kita tidak punya cukup banyak keberanian untuk mengakui betapa besarnya kelemahan yang kita miliki. Dan saat kita mengingkari kelemahan kita adalah yang paling mudah tentu saja untuk melemparkan kesakithatan kita pada orang lain, dan sayangnya, hal itu tidak sedikitpun mengasah keberanian kita, semangat kita, keyakinan kita bahwa kita dapat mengatasi semua masalah kita sendiri diatas kaki kita sendiri. Terlepas dari (bahkan) kita telah menarik saudara kita pada ketakutan kita dan membuatnya berpartisipasi pada kemarahan kita, dan menyakitinya balik. God never gives you problem, that you cant solve it. Karena itu buat apa takut. Buat apa takut menghadapi beribu- ribu kemarahan dari bahkan beribu- ribu orang yang dihadapkan pada kita jika kita tahu pada akhirnya kita dapat menyelesaikannya?

Hidup itu memang tidak semudah yang dibayangkan, jadi siapa yang bisa menjamin hidup-mu lebih susah daripada hidup-ku, atau hidup-ku lebih susah daripada hidup-mu? Possibility are infinite, dan hidup terlalu kecil untuk satu kebenaran, hidup terlalu besar untuk dipertaruhkan pada hal- hal yang tidak kita percaya, hidup terlalu sempit untuk dijalani dengan keluhan- keluhan. Bukan kewajiban kita untuk mengurusi apa yang akan terjadi di masa depan, hidup kita sudah terlalu padat dengan hal- hal yang ingin kita capai di hari ini. Maka mengapa tidak mempermudahnya saja dengan mencintai dunia dan seisinya. Karena mencintai adalah mengerti, mencintai adalah menegur namun tidak meninggalkan, mencintai adalah menjaga dan bukan berlari dari ketakutan. Mencintai adalah menghadapi dengan jujur . Mencintai adalah mengasihi. Hal- hal yang tradisional namun penting.

Dan mencintai bukan meminta tapi membuat jadi baik, mencintai juga bukan berkorban dan bersedih tapi berusaha dan percaya. Semua kebaikan di jagat raya memang patut dicintai, semesta sudah memberi terlalu banyak, Dia menempatkan kita sejajar dengan yang lainnya. Jadi jangan takut jika ada yang meludahi wajahmu, karena yang marah adalah yang tidak bisa mengatasi bahkan dirinya sendiri, yang berilmu dia yang bijaksana. Yang bisa mengerti, dan belajar. Yang tidak angkuh dan mau membagi. Yang tidak takut pada akhirnya adalah yang akan hidup dalam kecintaannya. Karena dia mencintai saudaranya maka dia bisa mengerti datang darimana ludah saudaranya dan dapat mengasihi, saudara yang meludahinya. Bukannya marah atau menghakimi, padahal dia tidak pernah menempatkan diri pada posisi saudaranya.

4 comments:

Ariana Hayyulia Rasyid said...

jadi, walaupun kita sudah sangat disakiti sama orang lain, kita harusnya tetap berusaha baik sama dia ul? harus memposisikan diri di tempat dia?

bagaimana jika kita sudah memposisikan diri kita di dia, kita sudah mencoba mengerti dia, kita sudah mencoba melihat kekurangan dari diri kita yang membuatnya menyakiti kita, namun tetap saja kita tidak menemukan jawaban dari permasalahan ini.
Kita terus merasa sakit. Malah sebenarnya, kita dan dia sama. Sama-sama merasa disakiti. Kita merasa disakiti oleh dia, dia pun merasa disakiti oleh kita.

Bagaimana kalau sebenarnya kedua pihak itu saling menyanyangi namun tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk menyatukan rasanya? bagaimana bila perasaan itu benar-benar tidak disatukan?

apakah tetap tidak boleh pergi untuk meninggalkannya?

Aulia Fitrisari said...

ga ada asap klo ga ada api na. dia pasti punya alasan kenapa sampai menyakiti kita, sama seperti kita yang punya alasan erasa disakiti org lain. Saling sayang itu pasti, karena, klo ga saling sayang, orang ga saling perduli, buat apa susah2 mencurahkan semua emosi dan terfokus pada penderitaan kita mengenai satu orang tanpa kita punya perasaan apa- apa sama dia? pasti ada hal yg bikin kita begitu memperhatikan orang tersebut. Ya karena rasa terusik. Klo kita ga sayang dan ga ingin bertanya, maka sakit hati itu sendiri ga bakal muncul.

Nah, kaya yang aku bilang, emang yang paling susah itu menerima. menerima kalo gak semuanya bisa selesai secara instant. dan satu lg yg susah itu percaya, percaya bahwa yang benar bakal keliatan pada akhirnya. klo kita mengasihi saudara kita dengan sangat baiknya, maka ga ada alasan lagi buat dia terus- terusan menyaiti kita. Karena kita udah ga ngambil pusing lagi sama rasa sakit hati kita. Kita udah menerima saudara kita itu dan megasihinya, kita ga marah sama keadaan yang ada, kita mengerti dan kita percaya sebenarnya dia juga mikirin kita.

Analoginya gini na..nana jalan dari rumah ke unpar bawa tas kosong, dan selama perjalanan nana, nana terus terusan ngambilin batu di jalan buat dimasukin ke dalam tas nana. padahal batu itu ga ada gunanya dan cuma ngeberatin perjalanan nana. Kenapa nggak batu itu dibuang aja? lebih ringan kan. Padahal nana juga tau, ada atau ga ada batu itu di dalam tas nana, nana tetap sampai ke unpar.

nah..itu dia, kenapa nana ngga buang prasangka nana terhadap dia, termasuk prasangka dia ingin menyakiti nana. walau mungkin kalo dicari-cari emang bener dia sengaja nyakitin nana, tp nana harus percaya dia gitu ada alasannya, dan akhirnya nana ngerti, dan pasti bakal tiba waktunya buat kalian saling bicara

Aulia Fitrisari said...

wow..sampe commentnya ga cukup..nih lanjut..

nah..

Tuhan itu maha baik, ga mungkin dia ngatur rencana yang ga selesai, dan kalopun nana menganggap itu ga selesai, tetep ada hikmah yang bisa diambil dari pengalaman itu, dan hebatnya itu bikin manusia tambah kuat dan bukannya makin tambah beban

Dan tentu sebagai manusia yang dikasih akal sama Tuhan, kita harus bersyukur.

Analogi lainnya gini na, nana lg ngebangun rumah, tiba- tiba nana salah masang tangga, apa nana bakal ninggalin rumah yang setengah jadi itu gitu aja? nga kan.Yang dewasa itu adalah yang membangun kembali apa yang udah rusak, bukan meninggalkannya.

Jadi jangan karena takut disakiti, kita kemudian balas menyakiti orang. Jangan karena merasa terus disakiti padahal kita gak tau apa yg sebenarnya dia rasain, lalu kita ninggalin dia. selama belum ada dialog yang jujur kita belum bisa ngerti jalan pikiran orang.

Yang mengasihi itu adalah yang tidak meninggalkan dan membuat jd baik.

Tapi, sebelum kita mencapai pada apa yg dinamakan dengan kesetiaan, yang perlu kita capai terlebih dulu itu mengerti dan empati. kalo nana belum dapet jawaban yang memuaskan atas kesakithatian nana.lihat dari sisi lainnya, liat kalo emang masalah itu belum tuntas sepenuhnya.

Manusia itu pada dasarnya saling mengasihi kok Harimau aja ga mungkin ngebunuh anaknya sendiri. Jadi klo kita udah bisa percaya, pasti hasil akhirnya kita jadi ikhlas, jd nothing to loose, jadi ngerasa perjalanan ini ga berat, penantian buat ngerubah jadi baik bukan beban dan tidak pula menghasilkan suatu yang sia- sia.


BUSEETTT DAHH...GARA-GARA NANA JADI BIKIN BLOG BARU NIH :D HAHA, TP MNYENANGKAN MEMBUAT DUNIA MENGERTI, BECAUSE OUR WORLD CREATED TO BE LOVED

Ariana Hayyulia Rasyid said...

hhahaha, ya, memang mungkin seharusnya begitu ul..
tp aku blm siap mungkin..
masih sangat egois, ya..
masih sangat emosi, ya..
masih sangat ingin mementingkan diri sendiri, ya..

mungkin, suatu hari nanti, aku bakal menghilangkan semua diatas tadi..
entah kapan ul..

hahaha, senangnya bertukar pikiran ama aul.. biasanya kan aul suka ga jelas pikirannya.. kali ini, OKE sekali.. ;p